Wacana tes keperawanan bagi calon siswa SMA di Provinsi Jambi menuai kontroversi. Secara tegas Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menolak wacana tersebut.

“Saya kira itu melanggar HAM karena persoalan keperawanan itu privasi setiap orang. Kami secara tegas menolak wacana tersebut,” ujar Ketua Komnas PA Aries Merdeka Sirait saat dikonfirmasi melalui telepon genggamnya, Jumat (24/9/2010).

Aries mempertanyakan tolak ukur membedakan dan bukti bagi siswa yang masih perawan dan tidak perawan. “Apalagi kalau laki-laki, bagaimana cara mengetahuinya. Wacana ini sama sekali tak ada kerjaan dan berlebihan,” tandasnya.

Daripada memeriksa keperawanan yang dinilai sangat privasi, kata Aries, lebih baik, lembaga pendidikan lebih memikirkan apakah anak tersebut memiliki ketergantungan narkoba atau tidak. Sebab, persoalan narkoba berdampak kepada masyarakat, tetapi soal keperawanan lebih bersifat pribadi.

“Seandainya siswa yang diperiksa keperawanannya tersebut mengaku, lalu apa untungnya. Pokonya kami menolak wacana ini,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, Wacana kontroversial tentang pendidikan muncul di Provinsi Jambi. Untuk dapat melanjutkan pindidikan ke tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), calon siswa harus masih perawan dan perjaka.

Gagasan ini pertama kali muncul dari Anggota Komisi IV DPRD Jambi, Bambang Bayu Suseno. Menurutnya, ide tersebut digulirkan, karena angka pergaulan bebas di kota besar termasuk Jambi, terus meningkat.

“Saya sadar wacana ini menimbulkan kontroversi. Tapi wacana ini saya usulkan untuk syok terapi generasi muda. Jujur, saya prihatin dengan pergaulan remaja saat ini,” tegas Bambang saat diwawancara okezone.
| okezone |

Iklan