Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memastikan benda  yang diduga sebagai meteor di Cirebon bukanlah benda antariksa. “Jadi ‘meteor’ di Cirebon itu bukan meteor,” kata peneliti senior astronomi Lapan Thomas Djmaluddin, Jumat (20/8).

Dari hasil penelitian di lokasi dan keterangan saksi, menurut Thomas, banyak fakta yang meragukan benda tersebut adalah meteor. Pertama, tidak ada saksi yang menjelaskan jatuhnya benda bercahaya dari angkasa.

Kedua, bau belerang dan api biru, berasal dari belerang yang terbakar. “Mirip lava panas belerang di Kawah Ijen,” ujarnya.

Dari sampel belerang yang dibawa tim peneliti Lapan dan lempengan benda yang dikumpulkan polisi, bau belerang tercium sangat kuat. “Saya yakin itu belerang beku yang bercampur pasir yang digunakan untuk memadamkan api,” katanya.

Adapun sampel belerang yang terkena pasir, berwarna kuning. Lalu darimana sumber api? Tidak jelas, kata Djamaluddin, yang pasti bukan berasal dari antariksa.

Sebelumnya dari keterangan saksi, peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (18/8) pukul 20.30 WIB. Dari sampel benda yang diterima Polsek Babakan, Cirebon, soal bau belerang sudah terjawab. “Bersumber dari limbah belerang di lahan yang terpapar obyek panas,” katanya.

Di lokasi sendiri, ujar dia, tidak ada lubang. Obyek meleleh karena terbakar dan memunculkan api biru. “Lelehan saat mendingin menjadi lempengan seperti plastik yang melebar dalam radius sekitar 25 sentimeter,” katanya.

Sebelumnya Lapan menduga benda tersebut meteor, sampah antariksa, atau obyek bumi menyala yang dilontarkan atau terlontar. 
| tempo |

Iklan