Jalan sempit menuju Masjid Ikhwanul Qorib, Jalan Babakan Priangan, Bandung, Jumat (6/8) malam, tampak sibuk. Di halaman masjid terpampang baliho yang memuat foto  ustadz Abu Bakar Baasyir. Tenda menaungi  layar besar yang menyorotkan gambar hidup Ustadz Abu, yang saat itu tengah berceramah.

Teriakan takbir membahana ketika ustadz Abu naik ke mimbar di lantai dua masjid. Baasyir berceramah soah tauhid serta bagaimana menjalankan Islam dengan benar. Menurut dia, Islam adalah Islam. Tidak ada embel-embel di belakangnya.

Baasyir menyatakan, orang di luar Islam tidak akan suka orang Islam yang menjalanan agamanya dengan benar. Karena itu dia merasa aneh jika melihat  orang Islam yang dekat dengan orang di luar Islam. “Kemungkinan besar Islam-nya nyeleneh,” kata Ba’asyir dalam ceramahnya.

Islam menurut Baasyir adalah idelogi tunggal. Ideologi ini tidak bisa disejajarkan dengan demokrasi. Bahkan   Baasyir menyebutkan demokrasi sebagai faham yang kurang ajar. Sebab demokrasi  berlandaskan suara terbanyak, “Lewat demokrasi, untuk menjalankan hukum Allah harus minta izin manusia,” katanya.

Ba’asyir mengutip pandangan salah satu imam, yang sempat memperingatkan soal demokrasi dan Islam. Imam itu meramalkan bahwa jika demkrasi dan Islam dicampuran, hasilnya kekacauan.

Selepas ceramah Ba’asyir menyempatkan diri untuk bertemu wartawan. Dalam pertemuan itu Ba’asyir menjawab pertanyaan-pertanyaan soal ceramahnya itu. Berikut petikannya:

Tanya (T): Apa garis besar ceramah Ustadz Abu malam ini?
Jawab (J): Jadi secara garis besar, kita dalam mengamalkan Islam itu perlu pemahaman yang benar. Pemahaman arti Islam itu, dalam pengertian yang benar, yaitu suatu idelogi yang paling benar dan  paling cocok untuk mengatur kehidupan manusia dan dunia. Kedua, kita harus memahami pokok Islam yang namanya Tauhid. Tauhid harus bersih, dan tauhid itu tidak cukup dengan diyakini dalam hati dan diucapkan lewat lisan, tapi juga harus dibuktikan dalam perbuatan. Itu  yang dicontohkan tadi, yaitu hidup hanya untuk mengabdi pada Allah.  Makanya hidup ini hanya untuk taat pada Allah dan harus  diatur dengan hukum Allah. Karena itu hidup hanya berasas tunggal dengan hukum Allah. Dari kehidupan pribadi sampai negara. Itulah tuntutan La Ilaha Ilallah. Itu saja kesimpulannya.

T: Mengenai Ahmadiyah, baru-baru ini ada penyerangan?
J: Ya, itu semua — Ahmadiyah dan lain sebagainya–  itu golongan-golongan yang memang dibentuk orang kafir untuk merusak Islam dari dalam. Ahmadiyah itu golongan murtad, JIL (Jaringan Islam Liberal) itu golongan murtad. JIL itu juga buatan orang kafir. Tujuanya untuk menghancurkan Islam dari dalam, mengobok-obok Islam dari dalam, itu lebih berat daripada diperangi dengan senjata. Kalau kita perangi dengan sejata itu ringan. Karena bisa membangkitkan semangat jihad. Tapi kalau diperangi dengan cara-cara itu, banyak orang Islam yang pemahamnya jadi keliru.

Serangan ini lebih berat. Jadi Ahmadiyah, JIL itu musuh Islam sebenarnya. Harus diusir dan mestinya itu harus diperangi oleh orang Islam. Tapi karena pemerintahnya bukan pemerintah Islam, jadi tidak diiganggu, malah dianggap sebagai Hak Asasi Manusia meskipun itu merusak (Islam) karena memang negara ini bukan negara Islam, tapi negara kafir.

Jadi semua itu meskipun merusak Islam dianggap hak asasi. Jadi tidak di apa-apakan, mestinya itu harus dilarang keduanya itu.

T: Bagaimana dengan masa yang menuntut Ahmadiyah dibubarkan?
J: Jelas, masa yang menuntut itu benar. Itu memang namanya Nahi Munkar. Jadi Ahmadiyah dan JIL itu bentuk kemunkaran. Lah orang Islam itu kalau tahu kemunkaran itu gak boleh diem. Harus dilawan. Yang tidak baik itu yang diem. Tidak  menaruh perhatian itu jelek.

T: Sebentar lagi Ramadhan, bagaimana dengan aksi sweeping?
T: Dalam Islam tadi, kita diperintah, kalau melihat kemunkaran kita harus segera menolak. “Kalau kamu melihat kemunkaran hendaklah kamu selalu menolak dengan tanganmu”. kalau gak bisa, dengan hati. Jadi kemungkaran itu memang harus disweping. Sebenarnya kemunkaran itu di dalam Islam tidak terbatas pada bulan Ramadhan, kapan saja, kemunkaran gak boleh nampak. Kalau kemunkaran itu dilakukan sembunyi itu urusan dia. Tapi kalau nampak, harus selalu disweeping meskipun bukan bulan Ramadhan.

T: Mengenai caranya?
J: Cara ara yang paling baik, yang pertama itu dinasehati dulu. Kalau dinasehati tidak mau baru agak keras. Dalam persoalan seperti ini seharusnya pemerintah kosekwen. Mestinya itu dilarang oleh pemerintah. Sweeping dilakukan oleh polisi. Tujuannya untuk mencegah kekacauan.

Tapi yang terjadi, polisi melarang sweeping, akhirnya kemunkaran dibiarkan begitu saja. 
AHMAD FIKRI
 | Tempo |