DALAM teori evolusi Charles Darwin, manusia adalah hasil evolusi dari primata. Simpanse sering disebut-sebut berevolusi menjadi manusia.

Sekitar 2,3 juta tahun lalu, evolusi itu sudah menjadi mahluk mirip manusia. Dan, salah satu mahluk yang hampir mirip manusia itu ditemukan di Goa Sterkfontein, wilayah di barat laut Johannesburg, atau 70 kilometer dari Pretoria, Provinsi Gauteng, Afrika Selatan (Afsel).

Kompas.com sempat menjenguk goa itu di sela liputan Piala Dunia 2010 dan melihat tengkoraknya. Tengkorak yang nyaris sempurna itu diperkirakan wanita dan dijuluki Mrs Ples. Bahkan, di Museum Maropeng yang tak jauh dari goa itu, ada boneka buatan yang dibuat menyerupai mahluk hampir manusia berjuluk Mrs Ples tersebut.

Oleh karena itu, Goa Sterkfontein yang sudah dinyatakan sebagai warisan dunia pada 2000 itu juga disebut Cradle of Humankind. Artinya, asal-usul mahluk yang hampir mirip manusia atau bakal manusia.

Tempat ini tadinya dieksplorasi oleh para penambang yang tertarik dengan adanya fosil pada 1890. Lalu, para ilmuwan tertarik mempelajari dan menggali fosil-fosilnya.

Pada 1936, Profesor Raymond Dart and Dr Robert Broom dari University of the Witwatersrand melakukan penelitian. Penelitian mereka menemukan banyaknya fosil cikal bakal manusia.

Namun, Mrs Ples sendiri ditemukan Dr Robert Broom and John T Robinson pada 18 April 1947. Julukan Ples diambil dengan menyingkat Plesianthropus transvaalensis yang berarti mahluk hampir manusia dari Transvaal.

Meski dinamakan Mrs atau Nyonya, sebenarnya tengkorak Mrs Ples itu belum bisa ditentukan jenis kelaminnya. Hanya, dari analisis sinar-X, Mrs Ples adalah mahluk hampir dewasa.

Kisah ini diceritakan pemandu wisata di Goa Sterkfontein sebelum pengunjung memasuki goa. Dengan demikian, begitu memasuki goa, rasanya menjadi lebih menarik karena ada imajinasi yang dibangun cerita itu.

Goa ini cukup panjang dan dalam. Namun, pengunjung hanya diberi rute sejauh 200 meter. Meski begitu, banyak kontur atau ruang-ruang indah di goa tersebut.

Beberapa jalan ditutup dengan pintu teralis. “Ini berarti masih dalam penelitian. Maka, yang hanya boleh masuk jalan itu adalah para peneliti atau orang yang diberi izin,” jelas pemandu wisata.

Sang pemandu sangat menguasai detail dan kisah goa itu sehingga pengunjung begitu puas mendapat penjelasannya. Apalagi, dia selalu memberi kesempatan pengunjung untuk bertanya setiap kali selesai memberi penjelasan. Dan, rasanya dia selalu bisa menjawab pertanyaan pengunjung.

Jika tak tertarik terhadap kisahnya, pengunjung bisa menikmati keindahan goa tersebut. Sesekali ada ruang yang berlobang sehingga sinar mentari bisa menembus ke dalam dan menambah keindahan.

Namun, ada pula rute-rute yang menegangkan. Pengunjung harus merunduk untuk menuju ke ruang lain dan kadang terasa amat susah.

Goa ini juga amat luas dan banyak jalan sehingga tak seorang pun pengunjung boleh berjalan sendiri karena bisa tersesat dan sulit keluar.

Rute wisata di goa ini memakai sistem sekali jalan. Artinya, pengunjung masuk dari satu pintu dan akan keluar dari goa di sisi lain. Jika sudah berjalan jauh, sering sulit melewati jalan kembali, sedangkan jika meneruskan perjalanan belum tentu menuju jalan keluar.

“Saya minta tak seorang pun mencari jalan sendiri dan tetap berjalan dalam kelompok,” pinta pemandu.

Setidaknya, ada dua kenikmatan utama mengunjungi goa ini. Pertama, bisa bertemu Mrs Ples dalam bentuk boneka buatan dan juga tengkorak aslinya. Makhluk yang disebut cikal bakal manusia. Kedua, tentu saja, menikmati wisata dalam goa.
| kompas |