Semuanya bermula ketika Febriana Kuscahyadi menemani ibunya belanja di pasar pagi. Gadis 16 tahun yang bersekolah di SMA Negeri 2 Kandangan, Kalimantan Selatan, ini melihat tumpukan limbah perut ikan tauman. “Apa yang kira-kira bisa dimanfaatkan dari ikan tauman ini,” begitu pikirnya.

Di sekolah, ia merundingkan banyaknya limbah perut ikan tauman kepada dua temannya, Aulia Gusrina dan Ermita Izmi Ariana, serta guru pembimbing mereka. Limbah perut ikan tauman ini bisa dimanfaatkan menjadi minyak goreng nonkolesterol. “Kami berencana mengikuti kompetisi L’Oreal Girls Science Camp,” kata Aulia.

Ikan tauman (Ophiocephalus micropeltes CV) kini menjadi ikan yang sering dikonsumsi masyarakat Kalimantan Selatan setelah ikan gabus kian langka dan harganya semakin mahal. Produksi ikan tauman di Kalimantan mencapai 46,7 ton pada 2008. “Jadi banyak ibu rumah tangga beralih ke ikan tauman, yang lebih mudah ditemukan dan harganya lebih murah,” katanya.

Untuk membuat minyak nonkolesterol dari limbah perut ikan tauman, Aulia dan teman-temannya mengumpulkan limbah itu. Isi perut ikan itu dipanaskan hingga keluar minyaknya. “Setelah dingin, minyak disaring dan dipanaskan untuk kedua kali,” katanya.

Pemanasan kedua ini berfungsi memisahkan minyak dari air. “Kemudian tambahkan sedikit kunyit, lengkuas, serta pandan untuk menghilangkan bau amis ikan, dan minyak goreng nonkolesterol siap digunakan,” ujarnya.

Cara pembuatan yang mudah, tanpa mengeluarkan biaya karena limbah perut ikan tauman diambil secara gratis di pasar, membuat tim dari Kalimantan ini menjadi pemenang ketiga dalam kompetisi tersebut.

Untuk melengkapi penelitian mereka, ketiga siswi itu melakukan uji proksimat guna menganalisis kadar protein dalam minyak. “Kandungan protein terbukti ada,” kata Aulia. “Ini dibuktikan dari perubahan warna, yang menjadi ungu muda. Untuk menguji kandungan lemak, minyak dioleskan ke kertas buram guna membuktikan adanya lemak.

Endapan lemak yang muncul bila minyak dalam keadaan dingin, menurut ketiganya, merupakan tanda adanya lemak baik (lemak esensial) atau nonkolesterol. “Ini berdasarkan literatur yang kami baca,” katanya. Uji vitamin yang mereka lakukan juga membuktikan adanya vitamin A, vitamin D, dan omega-3. 
| sumber |

Iklan