Predators dimulai dengan sebuah akhir dan berakhir dengan sebuah awal. Lalu, tidak ada tengah-tengah. Atau, keseluruhan film ini adalah bagian tengah dari sebuah perjalanan, yang sudah dimulai sejak lama, dan sepertinya tidak akan pernah berakhir. Ini adalah sebuah siklus.

Seseorang jatuh dari langit, melayang-layang sebelum akhirnya parasutnya mengembang, lalu mendarat di sebuah hutan dan kita bisa saja mengira ini adalah sebuah film tentang perang Vietnam. Tapi, kita tahu bahwa Predators (jamak) adalah sekuel dari Predator (1987) dan Predator 2 (1990). Saya menonton Predator ketika duduk di bangku SMP dan mengenangnya sebagai sebuah film yang aneh: makluk-makluk menakutkan bermata sinar inframerah, dan berdarah hijau muda.

Maka, ketika menonton Predators, yang bisa saya lakukan dari awal hanyalah menunggu munculnya “makluk itu”, untuk kembali menikmati sensasi visual sebuah perburuan yang ganas, brutal dan tidak mengenal ampun. Dengan tatapan mata inframerahnya, mereka tahu posisimu dan siap memangsamu. Sementara, kau bahkan tidak tahu mengapa dan bagaimana bisa berada di tempat itu. Tapi kau tidak sendiri.

Lelaki yang terjun bebas di hutan itu, ternyata jatuh bersama 7 orang lainnya. Naluri sebagai orang yang saling asing, mereka pun langsung mewaspadai satu sama lain, saling mengarahkan moncong senjata. Sebagian dari mereka berseragam militer, namun ada juga seorang dokter dan narapidana pelarian dengan seragam penjaranya. Ada satu perempuan di antara mereka, juga berseragam militer. Dan, seorang berwajah oriental dengan penampilan yang necis ala eksekutif perusahaan. Mereka tidak tahu mengapa dan bagaimana bisa sampai di hutan itu.

Dengan angkuh, lelaki yang jatuh pertama kali tadi mengangkat diri sebagai semacam pimpinan rombongan. Dia seorang lelaki berwajah Rusia, dingin dan sengak. Si perempuan berkali mencoba membuka percakapan dengannya namun hanya jawaban-jawaban tidak bersahabat yang dia dapat. Tapi, pria itu begitu serba tahu. Dia tahu asal-usul anggota rombongannya saat ini, dan mengatakan, “Kita adalah orang-orang yang dipilih”. Tapi, ketika si perempuan minta penjelasan lebih lanjut, pria itu kembali dingin dan membisu. Suatu kali, dia malah mengutip kata-kata Hemingway.

Sepanjang film, kita diajak mengikuti perjalanan 8 orang misterius ini. Mereka terus merangsek ke dalam hutan untuk mencari jalan keluar, namun pada suatu titik, mereka terperangah. Di ujung sebuah jurang, mereka melihat langit begitu dekat dan planet-planet lain berada di atas kepala mereka. Saat itulah mereka baru sadar, mereka berada di sebuah planet yang lain lagi, dan itu bukanlah bumi. Jalan keluar menjadi semakin jauh dari harapan ketika kemudian bermunculan anjing-anjing hutan yang sangat aneh dan liar, yang disusul dengan kemunculan makluk lain yang lebih aneh lagi.

Sutradara Nimrod Antal mempertahankan “keaslian” sekuel ketiga film Predator ini sebagai sebuah horor-thriller tentang perburuan alien terhadap manusia, dan meramunya dengan science-fiction tentang “survival” yang mencekam.

Adrien Brody yang sebelumnya kita saksikan sebagai pria kurus dalam film The Pianist, kali ini telah berubah menjadi pria berseragam militer yang berotot dan tampak sangat jahat, tidak berperasaan dan bahkan tidak bersedia menyebutkan namanya.

Nyaris tanpa drama, atau pun percakapan basa-basi, film ini menyajikan ketegangan tidak henti.

Tak ada waktu untuk memikirkan tentang plot. Bahkan kita juga tidak peduli kalau di antara rombongan itu ada penembak jitu dari Israel atau anggota pemberontak Sierra Leone. Dan, ketika si Rusia yang diperankan Adrien Brody itu sekali lagi mengulang pernyataan bahwa mereka adalah orang-orang yang dipilih, kita sudah kehilangan rasa ingin tahu. Rasanya sudah cukup kalau kita tahu dari awal bahwa mereka akan mati satu per satu, dan tidak sulit juga menebak siapa yang akan selamat. Tapi, apa artinya selamat, jika kau berada di suatu tempat yang sama sekali asing, bahkan kau tidak tahu mengapa bisa sampai di situ?

Sekarang, setelah bukan anak SMP lagi, saya bisa berkata, Predators adalah sebuah kritik yang keras dan sarkastik terhadap segala bentuk dan praktik perburuan dalam kehidupan. Dan, betapa tragis bila faktanya: tidak ada perburuan yang lebih menggairahkan dibandingkan dengan perburuan (terhadap) manusia. Dan, ini adalah sebuah siklus. (eny/eny)
| detikmovie |

Iklan