Dalam rangka kampanye Keluarga Berencana (KB), petugas BKKBN berkunjung ke sebuah desa di pedalaman. Para petugas tersebut berusaha untuk bisa berdialog langsung dengan para akseptor KB. Satu persatu Ibu-ibu di desa itu diajak bicara.

Petugas: “Bu Broto pakai apa Bu?”
Bu Broto: “Pakai IUD”

Petugas: “Bu Sami pakai apa Bu?”
Bu Sami: “Pakai susuk”
Bu Karjo:”Pakai suntik.”
Bu Madreah: “Pakai dingklik!!” (dingklik artinya kursi, red)

Petugas: “Pakai apa Bu?”
Bu Madreah: “Pake dingklik”

Petugas: “Gimana caranya?”

Bu Madreah: “Suami saya sukanya main sambil berdiri. Karena dia lebih pendek dari saya, maka dia perlu mancik (berdiri, red) ke atas dingklik. Ketika suami saya sudah mulai ngos-ngosan dan merem-melek, Tak tendang dingklik-nya!”

Tanpa Sadel

Pasa suatu hari, ibu-ibu perkumpulan senam di sebuah komplek elit mengadakan acara lomba bersepeda. Lomba diadakan di lapangan sepak bola di sekitar komplek, dengan materi ketahanan naik sepeda mengitari lapangan.

Seorang ibu yang mendapat giliran pertama memulai dengan gayanya sendiri, namun hanya kuat satu putaran saja. Begitu juga ibu yang kedua, dengan gaya masing-masing, namun sudah ngos-ngosan di putaran pertama.

Setelah giliran ibu yang kelima dengan tenangnya dan bergaya berbeda dengan yang lain. Pada putaran kelima pun masih terlihat ceria sambil merem melek. Bahkan sampai putaran kesepuluh belum juga mau berhenti, jika tidak distop secara paksa oleh ibu yang lain. Jelas ini yang jadi juara.

Ibu yang pertama tanya pada ibu juara tersebut, “Apa sih Bu resepnya kok kuat sampai sepuluh kali?, sambil merem-mee lagi?”

Dengan tenangnya Ibu juara tersebut sambil malu-malu menjawab, “Sepeda saya tanpa sadel”
(kapanlagi)