TAK ada satu pun ibu yang menginginkan anaknya divonis “sakit” setelah melahirkannya ke dunia. Tak ada pula ibu yang “sengaja” ingin menularkan virus penyakit kepada anak dalam kandungan.

Tapi kenyataannya, banyak ibu yang meratap ketika mengetahui anak yang dilahirkan terinfeksi penyakit serius dari dirinya. Ironisnya, sang ibu rupanya tak tahu bahwa dia mengidap virus yang bisa menyebabkan penyakit yang sampai saat ini belum ketahuan obatnya, AIDS.

Dokter Zakiudin Munasir, SpA (K) dan dr Dina Muktiarti, SpA dari RSUPN Cipto Mangunkusumo memaparkan pandangannya.

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi, atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus).

HIV ini bekerja dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4. Padahal, sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Bisa dibayangkan, jika sel darah putih rusak, tubuh kita tidak memiliki pelindung. Tubuh menjadi sulit bertahan dari gangguan penyakit yang sangat ringan sekalipun.

Dengan demikian, jika seorang bayi atau balita terserang birus HIV, maka tubuhnya sangat rentan terhadap berbagai penyakit yang mengintai. Jika kekebalan tubuh mereka terus menurun, para ‘malaikat kecil’ itu harus berjuang keras untuk tetap bertahan hidup.

Biasanya, penularan HIV pada anak terjadi secara vertikal akibat dari ibu yang mengidap HIV kepada anaknya. Proses penularan dapat terjadi pada saat kehamilan, proses persalinan, dan sesudah persalinan. Bayi bisa tertular ketika dalam kandungan melalui plasenta atau air ketuban.

Namun, ingat! Tidak semua bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengidap HIV, akan positif tertular HIV/AIDS juga. Kurang lebih 30-35 persen kemungkinan tertular terjadi pada anak bila tidak dilakukan tindakan pencegahan. Jadi, kemungkinan untuk tidak tertular cukup besar. Tetaplah penuh pengharapan!

Nah, sebagai langkah awal pencegahan, proses persalinan ibu yang sudah postif mengidap HIV sebaiknya diupayakan melalui operasi cesar (sectio caesaria). Hal ini guna menghindari terjadinya luka pada saat persalinan. Selain itu, si ibu harus diberikan obat pencegahan antivirus yaitu antiretroviral (ARV).

Setelah melahirkan, si ibu juga tetap harus berobat, demikian juga dengan sang bayi. Bayi akan diberi obat antivirus selama 6 (enam) pekan. Setelah itu akan dievaluasi dengan pemeriksaan laboratorium, apakah positif ataukah negatif. Sebaiknya, setelah lahir, si anak diberikan susu formula yang berkualitas baik agar tetap dapat tumbuh dan menghindari anak dari sakit.

Jika segala daya telah diupayakan, tetapi sang bayi terinfeksi juga, itu di luar kuasa manusia. Namun sebaiknya Anda mengetahui sejak dini gejala yang paling sering terlihat dari seorang anak yang terinfeksi HIV/AIDS, yaitu:

– Anak sering diare atau terus-menerus.

– Gagal tumbuh, atau malnutrisi.

– Sering timbul infeksi jamur pada daerah lidah dan mulut.

– Sering sakit, atau infeksi yang susah sembuh.

Setelah mengetahui gejala-gejala tersebut, maka yang harus Anda lakukan pada balita positif HIV-AIDS, adalah:

– Harus diisolasi jika ada orang yang sakit.

– Jangan pernah putus dan berhenti dengan obatnya. Ini sama sekali tidak diperbolehkan. Dikhawatirkan jika pengobatan setengah-setengah, virusnya akan kebal. Ini malah justru lebih berbahaya.

– Menjaga kebersihan diri sang anak dan lingkungannya.

– Makanan harus gizi seimbang.

– Bagi keluarga yang anaknya terkena HIV-AIDS, jangan pernah putus asa. Walaupun sampai sekarang belum ditemukan obat yang betul-betul mujarab untuk mengobati HIV-AIDS. Namun, tetaplah optimis!

Perlu diketahui, ketika seseorang terkena virus HIV, dia tidak akan langsung menderita AIDS. Dibutuhkan waktu 2 pekan sampai 20 tahun untuk dapat menjadi AIDS yang mematikan bagi penderitanya. Faktor yang membedakannya dari masing-masing orang adalah kekebalan tubuhnya. Karena itu, kondisi tubuh si kecil harus terus dijaga dengan merawatnya sebaik-baiknya dan memerhatikan setiap kebutuhannya.

Nah, anak adalah karunia. Walau di tubuh si kecil bersemayam virus HIV, senyum dan tawa yang menghiasi wajahnya seolah mengatakan “Aku ingin menikmati hidup.” Berikanlah yang terbaik untuknya. Anda bisa memerhatikannya, bukan malah menelantarkannya. Anda pasti sanggup menyayanginya, bukan justru mengucilkannya. Yakinlah, genggaman erat Anda di tangan mungilnya menjadi sumber penyemangatnya. (Mom& Kiddie//nsa)

Diposting oleh : reff okezone.com